Indra Kurniawansyah

Tempat Sharing Wisata, Bisnis, & Banyak Hal

Menu

Malioboro

‚Ä®

Malioboro adalah nama jalan yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Berdekatan pula dengan Kraton Yogyakarta, artinya berdekatan pula dengan alun-alun.

Malioboro

Sejarah Jalan Malioboro Jogja

Di jalan ini sejarah perjuangan Republik Indonesia pernah mampir. Konon, namanya berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga, walau ada pula yang mengaitkannya dengan sejarah kolonial. Nama Malioboro konon pula diambil dari nama seorang Duke Inggris, yaitu Marlborough yang menduduki Kota Yogyakarta dari 1811M hingga 1816M.

Betapa pun terdapat kontroversi dalam masalah penamaan, Malioboro memang menjadi pusat pesona di Kota Yogya, kembang yang pesonanya mampu menarik wisatawan (untuk belanja suvenir).

#Kawasan Menarik untuk di Kunjungi

Ini tidak mengherankan karena jalan ini terbentuk menjadi semacam area perdagangan setelah Sri Sultan Hamengku Buwono I membuat dan mengembangkan sarana perdagangan dengan cara membangun sebuah pasar tradisional pada 1758, dan hingga seterusnya Malioboro ini menjadi pesona Yogya karena ada orang, ada dagang, dan bisa dibalik ada dagang ada orang.

Para pedagang baik yang bertoko atau berlapak kaki lima, memiliki berbagai hal untuk dijajakan, ada yang menggelar dagangannya dengan tenda, meja, gerobak, ada pula yang angkringan, gelar tikar, plastik di lantai, menggelar melalui mini van, melalui pick up, melalui kaki dan tangannya alias di panggul.

Kepadatannya luar biasa, konon saat pengunjung di Malioboro sedang ramai-ramainya, ruangannya jadi padat dan antar pengunjung akan saling berdesakan karena sempitnya jalan bagi para pedestrian dan padat itu berlaku pula pada banyaknya pedagang di sisi kanan dan kiri, ditambah kehadiran warung-warung lesehan, entah siang, entah di malam hari, entah di tengah malam, entah di pagi buta, entah menjelang pagi.

Perputarannya luar biasa, begitu cepat begitu singkat waktu berlalu, 24 jam pernah saya rasakan, berdiri duduk, meminum kopi, padahal ada kopi arang, tapi saya tak pernah mencicipinya, dan waktu berlalu dengan sangat cepat.

#Pesona Malioboro

Di Malioboro, memang terdapat pesona yang bagi saya adalah manusia yang mengisinya. Mereka cerminan kelas sosial Indonesia yang strugle berjuang. Berbeda dengan pejalan kaki di Braga Bandung yang wangi-wangi, di Malioboro bau peluh keringat lebih nyata terasa.

Di Malioboro, semua tersedia. Yang menjual makanan, minuman, pernik, cinderamata, bermain musik, melukis, hapening art, baca puisi, nongkrong, bikin rame-ramean, mengasong rokok, mengasong keseksian, pengamen yang suarana malah lebih merdu dari artis rekaman, dan permainannya tidak lebih buruk dari musikus, yang mengandeng bule-bule, sampai pantomim yang mengemis.

Keramaian di Malioboro mengundang kesempatan dalam pelbagai bentuknya orang jadi merasa terbiasa apa pun yang pernah hadir di sana. Pemandangan wajar dan lumrah itu bisa Anda temui di mana saja bukan, bukan hanya berada disepanjang jalan ini saja, walau istimewanya tetap ada bau Yogya pada keramaian itu. Dalam artian, hampir semua orang full ngomong Jawa, bukan Batak, bukan Padang, bukan Betawi, bukan Sunda, bukan Ambon, bukan China, bukan pula India.

Di Malioboro, sudah dijelaskan sebelumnya oleh para pemadu wisata di sana kalau harga cinderamatanya termasuk batik tembak yang dijajakan di sana itu murah meriah dan saya sepakat dengan kemurahan dan kemeriahan itu. Sehabis pulang bawa satu stel batik yang murah itu, dalam hitungan hari sobekan terjadi di kiri dan kanan batiknya, nasib.

Di Malioboro pula komunitasnya lebih cair dibandingkan pasar-pasar lain di banyak kota yang lebih segmented. Pedagang itu sejatinya adalah komunitas yang berkumpul dan lantas membuat ring antara mereka sendiri sehingga mereka bisa berdagang dengan nyaman.

Apabila di beberapa kota, komunitaslah yang menggerakkan perdagangan, pasti akan segmented, tapi di Malioboro semua campur baur, tanpa ada batasan mana dagangan yang dominan. Apakah itu masih berlaku semacam itu atau sudah berubah, bisa Anda cari tahu lebih lanjut dengan berkunjung sekali lagi ke sana.

#Objek Wisata Bersejarah

Bagi yang ingin berwisata kota tua di Malioboro, sebenarnya terdapat beberapa obyek bersejarah yang bisa Anda kunjungi di sana, antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. Jika mitos bangunan tua itu masih harap terasa, tentunya sebijak-bijak dari guide di sana untuk bercerita detail tentang ada apa di sana, siapa pelakunya, bagaimana terjadinya.

Namun detail itu bisa didapatkan oleh pelancong tanpa guide. Anda bisa merasakan sejarah dengan hanya pergi sendiri, merasakan ini itu sendiri, dan hanya sendiri, merasakan lagi Malioboro berulang-ulang tidak membosankan, kecuali barangkali bila kelak pembangunan itu sukses, dan ciri kultur arus bawah yang kuat, lenyap ke tengah modal-modal raksasa.

Review Malioboro

Terbaru di Tempat Wisata | Diposting oleh Indra, Sabtu 2 Februari 2019.

Oleh-oleh Khas yang ada di kawasan jalan Malioboro Jogja dan sekitarnya memang beragam. Tersedia beberapa pilihan untuk dijadikan buah tangan oleh wisatawan. Beberapa pilihan yang…

Terbaru di Tempat Wisata | Diposting oleh Indra, Sabtu 2 Februari 2019.

Malioboro Jogja saat ini terus berbenah dalam semua aspek terutama sebagai salah satu tempat wisata di Jogja. Dulu tempat ini menjadi primadona di Jawa sehingga…

Terbaru di Tempat Wisata | Diposting oleh Indra, Sabtu 2 Februari 2019.

Apa yang Anda ketahui¬†tentang Malioboro?, sudah sejak lama terkenal akan keindahan panorama alamnya serta keragaman budayanya. Ada banyak sekali kota di Indonesia yang bisa dijadikan…