Indra Kurniawansyah

Tempat Berbagi Banyak Hal, Apa Saja, Kapan Saja, dan Dimana Saja

Menu

Takdir Allah Pasti yang Terbaik

Takdir Allah Pasti yang Terbaik – Anak kami Abdurrohman Shiddiq lahir secara normal tanggal 10 september 2017 dengan lingkar kepala 35 centi, tinggi 51 centi, dan berat 3,1 kg.

Sejak kelahiran hingga usia 11 bulan anak kami kondisinya normal-normal saja. Dari pertumbuhan fisiknya, berat badannya, makannya, dan tidurnya sangat normal. Memasuki usia 8 bulan sudah bisa duduk secara normal. Bahkan diusia 9 bulan berat badannya 10 kg lebih dan diusia 10 bulan mencapai berat badan 11,6 kg.

Memang pada usia 8 bulan atau tepatnya pada bulan Ramadhan anak kami mengalami batuk selama 10 hari yang menyebabkan nafsu makan, tidur, dan berat badannya berkurang. Namun setelah sehat nafsu makannya kembali normal dan bahkan pertumbuhannya juga sangat bagus hingga sudah bisa duduk.

Memasuki usia 11 bulan Shiddiq kembali terserang batuk selama 11 hari yang menyebabkan fisiknya melemah dan tidak bisa duduk lagi. Namun, setelah batuk sembuh selera makan kembali normal dan mulai kuat lagi. Sepertinya pertumbuhannya akan kembali seperti yang kami harapkan.

Pada tanggal 15 september 2018 tepatnya 5 hari setelah usianya genap 1 tahun. Buah hati kami kembali terserang batuk selama 2 minggu. Tidak mau makan pendamping ASI dan hanya mengkonsumsi ASI pada malam hari saja. Kami hanya melakukan perawatan secara intensif di rumah karena pertimbangannya ASI tetap kuat. Dan biasanya setelah batuk sembuh kembali selera makan dan kondisi tubuhnya juga akan kembali membaik.

Pada tanggal 28 september 2018 atau 13 hari setelah batuk kondisinya sepertinya akan mulai membaik. Qodarollah Allah berkehendak lain, pada hari sabtu 29 september 2018 kondisi buah hati kami semakin menurun. Belum lagi dari pagi hingga sore tidak mau mengkonsumsi ASI lagi. Melihat kondisinya semakin memburuk jam 21.00 wib kami membawanya ke rumah sakit Mitra Keluarga Cikarang tepatnya di ruangan UGD agar bisa di tangani minimal segera diinfus.

Sesampainya disana anak kami diperiksa oleh dokter Daniel Mandatari yang menurut diaknosanya mengalami Hidrosefalus. Sesuai dengan pemeriksaan beliau sebagai berikut :

  • Lingkar kepala 58 centi (menurut dokter untuk usia 12 bulan normalnya maksimal 49,5).
  • Mata yang terbuka dan berair.
  • Tenggorokan Merah dan sulit menelan.

Kemudian pada hari minggu 30 september 2018 tepatnya jam 01.00 WIB dini hari dilakukanlah CT Scan yang ditangani oleh dokter Dwidjo Siswojo dan dokter Daniel Mandatari. Hasil print outnya sebetulnya akan keluar pada hari selasa tanggal 2 oktober 2018. Namun karena kondisi mendesak, dokter sudah menjelaskan hasilnya pada monitor mereka dan menerangkan bila anak kami positif mengalami hidrosefalus. Dan harus segera melakukan tindakan operasi secepat mungkin.

Innalillahi wainnailaihi rojiun…! Kami sangat sedih atas kenyataan ini. Awalnya saya memutuskan akan melakukan tindakan operasi walaupun biayanya sangat mahal. Namun, setelah berkomunikasi panjang lebar dengan dokter Daniel Mandatari dan browsing sana sini. Dan diketahui bila operasi tidak memberikan solusi terbaik bahkan dapat menimbulkan masalah baru, misalnya infeksi, ke gagal operasi, dan lainnya. Belum lagi peluang untuk sembuh juga tidak ada. Hanya sekedar mengurangi cairan yang ada di kepala anak kami saja.

Saya dan istri benar-benar sedih, frustasi, dan bingung. Belum lagi dokter berkali-kali menyarankan untuk segera mengambil tindakan dan bahkan kami diberi waktu 1 jam untuk berfikir. Ditengah kesedihan kami menghubungi orang tua, mertua, kakak, dan keluarga yang ada di Bengkulu. Memberikan kabar ini dan meminta saran mereka semua.
Dan melalui komunikasi tersebut semuanya menyarankan agar tidak melakukan tindakan operasi karena pertimbangannya operasi tidak memberikan solusi bahkan menimbulkan masalah baru. Belum lagi peluang untuk sembuh juga tidak ada. Hanya sekedar mengurangi cairan yang ada di kepala anak kami. Dan di kampung akan mencoba ikhtiar dengan cara tradisional (daun2an, akar, dan tumbuhan alami).

Akhirnya saya dan istri berusaha sabar dan tawakal serta memutuskan akan pulang ke Bengkulu. Dan pada hari itu juga minggu 30 september 2018 kami menuju Bengkulu dengan penerbangan jam 12.45 wib.

Sesampainya di Bengkulu mulai dicarikan ahli obat-obatan tradisional yang memang banyak terdapat dipedalaman. Tepatnya rabu 3 oktober 2018 atas saran salah satu keluarga kami menemui seorang ahli obat tradisional. Menurut testimoni warga beliau pernah menyembuhkan penyakit yang sama dengan yang dialami anak kami, yaitu dengan menggunakan ramuan alami. Ramuan alami tersebut berasal dari batang dan daun-daunan yang dipotong halus-halus yang digunakan dengan cara ditempelkan di kepala.

Setelah digunakan selama 2 hari terlihat hasil yang positif. Kepala dan seluruh tubuh yang tadinya panas mulai turun. Dan setelah digunakan selama 1 minggu lingkar kepalanya berkurang 1 centi, yaitu menjadi 57 centi. Alhamdulillah harapan itu kembali tumbuh.

Pada hari jum’at 12 oktober 2018 obat yang digunakan harus dihentikan dulu karena kehabisan stock dan sedang dicari. Saat inilah terjadi hal yang kembali membuat kesedihan ini bertambah, ia ba’da sholat jum’at anak kami kembali panas dan bahkan hingga kejang sebentar. Namun, walaupun hanya sebentar membuatnya benar-benar dalam kondisi koma. Dalam kondisi tidur ataupun tidak mata tetap terbuka serta sangat sulit untuk dimasukan makanan. Nyaris seharian hanya sedikit bubur nasi, Extra Food, dan air putih.

Ya Allah kami yakin ini hanya ujian dari-Mu.
Ya Allah berikan kesembuhan untuk Anak kami karena bagi-Mu hal ini sangatlah mudah.
Ya Allah sesungguhnya tiada daya dan upaya melainkan atas kehendak-Mu.
Aamiin…!

Hanya 1 hal yang tetap kami yakini hingga kini, bila takdir Allah pasti yang terbaik…!

#TAG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Informasi Menarik Lainnya