Indra Kurniawansyah

Sharing Infomasi, Tips, Tutorial, & Banyak Hal

Menu

Tarian Tua Reta Lou by Nuky Savano

Oleh Dank Rian

Salah satu tarian yang dipertontonkan adalah tarian legendaris Tua Reta Lou (menari di atas bambu). Wisatawan asing menyebutnya Flying Magic Bamboo.

Tarian Tua Reta Lou by Nuky Savano

Desa Doka, sebuah desa di kelurahan Bola, Kabupaten Sikka, Pulau Flores mungkin banyak orang tidak mengenalnya. Sebagian orang mengenal Pulau Flores tak jauh dari Labuan Bajo, Pulau Komodo, Danau Kelimutu atau Wae Rebo.

Perjalanan menuju desa Doka lebih mudah dicapai melalui bandara Frans Seda, Maumere. Walaupun jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Maumere, diperlukan waktu sekitar 2 jam untuk menuju desa Doka karena jalan yang berliku-liku serta tanjakan curam.

Desa Doka merupakan desa tradisional yang dikenal memiliki tenunan kain ikat yang indah. Yang lebih mengagumkan adalah bahan-bahan untuk membuatnya berasal dari alam sekitar. Desa ini menjadi contoh desa pariwisata di Flores, yang mulai menggeliat tahun 1997 atas bantuan penggagas pariwisata yang bernama Kornelis Djawa. Dan kini, sejak tahun 2010, Cletus Lopez, putra dari Kornelis Djawa menampilkan atraksi desa dan kearifan lokal dari sebuah desa di balik gunung ini.

Walaupun beberapa sudah berbaur dengan modernitas kehidupan di Maumere, masyarakatnya masih gigih untuk hidup dengan mempertahankan tradisi leluhur.

Ketika wisatawan datang, maka warga desa akan mengadakan upacara penyambutan, memainkan tari-tarian, pertunjukkan proses pembuatan kain ikat, hingga menyajikan hidangan makanan dan minuman tradisional.

TERKAIT :  Sunrise di Candi Prambanan : Nuansa Indah Melihat Matahari Terbit dari Balik Candi

Salah satu tarian yang dipertontonkan adalah tarian legendaris Tua Reta Lou (menari di atas bambu). Wisatawan asing menyebutnya Flying Magic Bamboo.

Tarian ini dulunya digelar bagi prajurit yang pulang dari berperang dan membawa kemenangan. Prajurit yang paling tangguh dipilih untuk diusung di ujung sebatang bambu yang diberi bantalan untuk duduk dan menari di atas perutnya.

Ada lima orang pria memegangi bambu tersebut, dikelilingi wanita yang terus menari. Wanita-wanita tersebut menari sambil mengayunkan tangannya yang mengepit hiasan di jemarinya. Musik tradisional pun mengiringi tarian ini tak henti-hentinya. Dipastikan, atraksi ini hanya bisa disaksikan di pulau Flores.

Setelah menikmati tarian, kami disuguhi sajian khas berupa ubi, pisang, serta minuman khas yang dinamakan sofi sambil melihat proses pembuatan tenun ikat.

Rasa kekaguman, kebanggaan, dan bahagia bercampur menjadi satu saat melihat warisan budaya yang ada di Indonesia ini.

Ragam budaya yang dipadu dengan keindahan alam dan keramahan masyarakat desa Doka sangat mencerminkan negara dan masyarakat Indonesia. Marilah kita sama-sama melestarikan budaya Indonesia.

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Komentar akan langsung tayang tanpa moderasi kecuali komentar mengandung spam dan rasis. Untuk itu isilah komentar dengan bijak tanpa spam dan rasis apalagi ujaran kebencian dan caci maki. Agar komentar anda langsung aktif.

Informasi Menarik Lainnya

Author: Dank Rian

Penulis Tetap Blog www.indrakurniawansyah.com (Professional Authorship). Kategori utama tulisan tentang Wisata, Kuliner, dan Hotel. Hobby utama Menulis, Traveling, dan Bermain Bola.


#TAG