Indra Kurniawansyah

Sharing Infomasi, Tips, Tutorial, & Banyak Hal

Menu

Wayang Kulit Berasal Dari Daerah Mana? Benarkah Asli Dari Jawa!

Oleh INDRA

Wayang Kulit Berasal dari Daerah Mana? Apakah berasal dari Jawa, India, China atau bahkan negeri Malaysia seperti klaim mereka! Berikut fakta lengkapnya seputar kesenian populer di Indonesia ini.

Pagelaran wayang kulit dalang ki Hadi Sugito

Ket: Pagelaran wayang kulit dalang ki Hadi Sugito. (sumber: google)

WAYANG KULIT adalah perpaduan budaya masyarakat lokal dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya. Bagi nenek moyang kita, mungkin tidak ada kesenian yang sebaik dan semenarik ini di dunia.

#Pembahasan Wayang Kulit

Secara etimologi, istilah wayang berasal dari kata “wayangan” yang berarti bayangan. Artinya, wayang merupakan wujud bayangan yang merepresentasikan kehidupan manusia. Wayang sebagai representasi kehidupan nyata tersebut dianalogikan dengan lakon tokoh dan berbagai karakter yang juga mirip dengan karakter manusia pada umumnya.

Wayang sendiri dimainkan oleh dalang yang secara analogi memiliki posisi yang sama dengan pencipta sekaligus pengatur kehidupan ini. Oleh sebab itu, pada zaman dahulu, seorang dalang dipilih bukan hanya karena kemampuan memainkan boneka wayang saja, tapi juga karena pandai menentukan jalan cerita dan memberi makna pada setiap jalan cerita yang dikisahkan.

Sejarah Wayang di Indonesia

Pada awalnya, boneka wayang merupakan seni yang terbuat dari bahan kertas sehingga mudah untuk dimainkan. Akan tetapi, karena bahan tersebut mudah sekali rusak, maka wayang berubah menjadi berbagai macam bentuk dan versi.

Wayang kemudian berkembang menjadi beraneka ragam bentuk, sesuai dengan bahan pembuatannya. Ada yang terbuat dari kayu, yang disebut dengan wayang golek, ada juga wayang yang terbuat dari kulit sapi atau kulit kerbau, yang dikenal dengan nama wayang kulit.

Wayang golek kemudian dikenal sebagai wayang khas Jawa Barat, sedangkan orang Jawa Timur dan Jawa Tengah identik dengan wayang kulit. Oleh sebab itulah, ada perbedaan pula tokoh yang dimainkan pada lakon wayang kulit dengan lakon wayang golek. Meskipun keduanya memiliki esensi yang sama.

Dari Mana Wayang Kulit Berasal?

Banyak pendapat mengenai asal mula kemunculan seni teater tua ini. Misalnya, legenda zaman Raja Han Wu Ti di Cina. Berthold mengemukakan bahwa seni wayang ini merujuk pada penayangan bayangan dikelir atau diwarnai untuk memanggil roh istri baginda.

Ada dua pendapat kuat yang melandasi keyakinan mengenai asal-usul wayang kulit. Pertama, pendapat para sarjana Barat, yaitu Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt, yang mengemukakan bahwa wayang kulit berasal dari Jawa. Semua istilah-istilah pewayangan berasal dari bahasa Jawa kuno (Kuna) yang sudah ada sebelum masuknya pengaruh Hindu ke Asia Tenggara.

Seni wayang sangat berhubungan erat dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khusunya orang Jawa. Tokoh terpenting dalam pewayangan, seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Gareng, hanya terdapat dalam pewayangan Indonesia.

Kedua, pendapat bahwa wayang kulit merupakan media penyebaran agama Hindu oleh bangsa India. Pendapat ini dikemukakan oleh Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Mereka merupakan sarjana Inggris, yang pernah menjajah India.

Pengaruh itu dapat kita lihat pada kisah-kisah Ramayana dan Mahabrata yang dibawakan dalam wayang kulit. Kisah-kisah perjuangan ini menggambarkan kehidupan masyarakat Hindu yang diadaptasi dari legenda para dewa di India.

Tujuan Kemunculan Wayang

Seni wayang tidak semata-mata muncul karena keinginan masyarakat untuk menghibur diri mereka sendiri. Kemunculan seni wayang sebenarnya bertujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada Pencipta, yakni Tuhan yang pada zaman dahulu disebut sebagai Sanghyang.

Pertunjukan wayang kulit ini bersifat sakral, sehingga berbagai acara yang menampilkan pagelaran wayang pun dianggap sebagai acara yang sakral. Acara yang biasanya menampilkan pertunjukan wayang adalah acara panen padi, acara pernikahan, dan acara lain yang berhubungan dengan rasa syukur terhadap Sanghyang.

Lantas pada perkembangannya, wayang meluas menjadi media hiburan yang merepresentasikan kehidupan raja raja di zaman dahulu. Media hiburan ini juga kemudian berkembang lagi sebagai media penyebaran kepercayaan atau agama, yang pada awalnya digunakan oleh masyarakat yang menganut agama Hindu.

Namun, penyebaran tersebut dilanjutkan pula oleh masyarakat dengan kepercayaan lain, khususnya Islam, sehingga wayang memiliki beberapa versi lakon bergantung pada siapa yang membawakan pertunjukan tersebut.

Meskipun demikian, terdapat satu hal yang sama dari berbagai versi wayang yang dipertunjukkan. Hal tersebut adalah hakikat pewayangan serta lakon yang dipertunjukkan merupakan kisah epik yang legendaris mengenai kehidupan Mahabrata dan Ramayana.

Lakon tersebut merupakan lakon utama yang mendasari pembentukan karakter tokoh wayang, termasuk tokoh wayang kulit yang juga merupakan bagian dari media hiburan sekaligus media pendekatan diri masyarakat Jawa terhadap Sanghyang.

Oleh sebab itu, setiap orang yang menonton pertunjukan wayang harus menyelesaikan tontonannya sampai akhir karena menyangkut kesakralan serta kepercayaan masyarakat terhadap dewa yang memberikan kehidupan kepada umat manusia.

Bahkan hingga kini, masyarakat Sunda dan Jawa masih memercayai bahwa wayang bisa menjadi media yang mempertemukan manusia dengan dunia lain di luar dunia yang sekarang kita tempati ini.

#Seni dan Filosofi dalam Wayang

wayang kulit lakon petruk dadi ratu

Ket: Pagelaran wayang kulit lakon petruk dadi ratu ki Bayu Aji Pamungkas. (youtube)

Para pencinta wayang tentunya sangat mengenali Semar, Petruk, dan Bagong. Nama tokoh ini sangat dikenal dalam dunia pagelaran wayang. Bahkan, karakter yang mendalaminya sangat mewakili karakter manusia di dunia nyata. Kesenian ini memang merupakan salah satu kesenian tradisional Jawa yang sarat akan hiburan dan pendidikan.

Pemilihan Cerita

Dalam penyampaian cerita wayang kulit di Jawa, terdapat pandangan filosofis yang sangat mendidik masyarakat. Pesan yang disampaikan ingin memberikan konsep pandangan mengenai makhluk Tuhan. Para tokoh wayang diibaratkan manusia dalam area kehidupan nyata, manusia bukan sesuatu yang bebas dari salah.

⇒Cerita Identik

Dalam membawakan suatu cerita dan tokoh dalam wayang, semua wayang mengambil tema tema dalam kitab kitab bendahara dari Agama hindu, kebijaksanaan, serta pragmatisme yang terjalin antara kepercayaan pada Tuhan, keyakinan pada negara, bakti pemimpin dan raja pada rakyat, dan rakyat yang menjaga lingkungan, dalam harmonisasi yang Indah. Ini sama di antara pengisahan wayang, entah dalam wayang kulit atau dalam wayang golek.

Mengutip Sujana, sebagaimana yang di kutip Rizalullah (2003), Pesan pada pertunjukan seni wayang golek biasa atau berbentuk ceritera. “Ceritera pada pertunjukan seni wayang golek, diklasifikasikan menjadi: versi ceritera, makna ceritera, dan pemilihan ceritera”. (Soepandi, 1984:6). Dan inipun identik dalam penggambaran nama tokoh wayang wayang kulit itu sendiri.

Versi pesan, dalam kehidupan seni padalangan kini, versi pesan berkembang menjadi 3 macam: “a. Galur/ pakem, b. Sempalan, c. Karangan”. (Soepandi, 1984:117). Galur/pakem merupakan pengembangan dari suatu kejadian dalam keseluruhan kitab. Misalnya babad alas amer yang mengisahkan terwujudnya negara Amarta (Pandawa). Dewa Ruci, lakon gambaran perjuangan Bima mencapai kesempurnaan jiwa. Babab maespati, lakon perjalan Somantri dan Arjuna Sastrabahu sebelumnya lahirnya Batar Rama dan awal penumpasan Dasamuka muda.

Yang dimaksud dengan sempalan, yaitu jika lakon yang ditampilkannya hanya berupa bagian dari varwa kitab yang diambil. Misalnya dari Mahabarata hanya mengambil bagian karna perlaya, Suyudana gugur, Kresna Duta atau Abyasa Palastra saja. Yang paling banyak dilakonkan dalam pagelaran Wayang Golek Purwa sekarang sebenarnya berupa Cerita Karangan.

⇒Cerita Karangan

Cerita Karangan merupakan rekayasa para seniman wayang baik di Jawa Barat maupun Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lakon yang dilukiskannya sama sekali tidak ada dalam kitab aslinya. Seolah-olah Mahabrata atau Ramayana hanyalah nama-nama peran wayangnya dan negaranya. Sedangkan kejadian dan permasalahannya hanyalah rekayasa semata. Dari rekayasa tersebut lahirlah lakon-lakon dalam padalangan seperti Gatotkaca Sewu, Pergiwa Pergiwati, Dawala Gugat, Astrajingga Rabi dll.

Makna Pesan, pada dasarnya makna pesan berangkat dari pola-pola yang sudah baku, baik pola menurut struktur plot maupun pola menurut struktur adegannya. Pola-pola tersebut tidak hanya merupakan susunan ceritera yang menarik saja, namun disamping itu juga harus mengandung maksud-maksud simbolis.

Umpamanya di dalam pola Dewa Ruci, sang pujangga memberi petunjuk kepada siapapun yang mempelajari atau mencari jalan ke arah tercapainya “kawruh kasempurnaan, yaitu ilmu pengetahuan menuju usaha kesempurnaan hidup”. (Sujana, 1991:8). Segala ceriteranya dari kitab Mahabarata dan Ramayana, maka dalam pagelaran wayang golek selalu dikisahkan tentang pertentangan antara Kurawa dan Pandawa, yaitu dua keluarga yang selalu mempersalahkan negara Hastinalaya/ Astina. Dalam lakon apapun antara lain selalu hadir tokoh Pandawa (Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, Samiaji/ Darmakusumah).

Begitu juga para putra Pandawa (Gatotkaca, Abimayu, Antareja, Jaka Tawang). Dari pihak Kurawa selalu tampil penghasut kekacauan (Dorna, Sakuni, Karna, dan Dursasana). Begitu juga Suyudana yang dianggap pimpinan tertinggi keluarga Kurawa yang jumlahnya 100 orang. Sebagai penasihat Pandawa (Kresna dan tokoh tambahan sebagai wakil rakyat; Semar, Astrajingga, Dawala, Gareng).

Jika basis ceriteranya mengambil Ramayana, maka dalam lakonnya antara lain akan tampil dari Keluarga Suci seperti Rama, Lesmana, Wibisana, yang dibantu oleh tentara kera, dibawah pimpinan Hanoman, disamping raja-raja kera Sugriwa dan Sobali. Musuh pertentangannya tampil seperti Rahwana/ Dasamuka, Kumbukarna, Sampakanaka, Indrajit.

Sedangkan tokoh Panakawan Togog dan Saragita, adapun inti pertentangannya berasal dari perebutan isteri Batara Rama, yaitu Dewi Shinta.

Tokoh & Pelajaran Berarti

Para tokoh menggambarkan perilaku manusia yang kadang-kadang bertindak keliru dan bisa jadi khilaf. Tokoh Panakawan yang diciptakan para budayawan Jawa berfungsi untuk memperkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik dan benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.

Banyak yang bisa kita pelajari dari kisah pewayangan, seperti kisah perjuangan untuk membela Tanah Air dan sesuatu yang kita anggap benar. Kebaikan selalu dapat menumpas kejahatan dan meyakini sesuatu yang kita anggap benar itu tidak akan pernah salah.

Sejak 1950an, buku-buku pewayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain. Dengan demikian, wayang kulit sudah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia.

Wayang kulit sarat akan pembelajaran falsafah hidup, moral, dan realitas kehidupan manusia. Kesenian yang harusnya tetap dilestarikan oleh para kaum muda sekarang. Jika Anda intip sedikit saja, kisahnya sungguh lebih menarik dari sinetron lebay yang penuh derai air mata.

Ternyata, wayang kulit tidak hanya terdapat di Jawa. Kita dapat menemukannya di berbagai negara di Asia, seperti India, Cina,Thailand, dan Malaysia.

Kesimpulan

Dalam pemilihan Pesan, perlu disesuaikan dengan latar belakang maksud dan tujuan pertunjukan. Atau dengan kata lain, ceritera yang ditampilkan mengambil inti peristiwa atau kejadian yang menyebabkan perlunya diadakan pertunjukan. Umpamanya pada upacara ruwatan, tak dapat tidak ceritera yang ditampilkan adalah Nurwakala.

Sementara pada upacara perkawinan biasanya menampilkan ceritera dalam nama tokoh wayang kulit seperti : Parta Krama, Jaladara Rabi, Gatotkaca Rabi, Kurapati Rabi, dan sebagainya. Demikian juga pada upacara-upacara khitanan, tujuh bulanan, sedekah bumi, dan lain-lain, ceritera yang diambil perlu menyesuaikan dengan latar-belakang upacara itu. (Sujana, 1991:8).

#Tokoh Wayang dan Karakternya

Tokoh Wayang Kulit dan Karakternya

Ket: Kurawa dan Pandawa serta Karakternya. (wayangku)

Begitu banyaknya tokoh dalam pewayangan, terkadang membuat kita bingung karena mereka memiliki karakter yang berbeda-beda. Kira-kira siapa saja tokoh-tokoh wayang yang bisa kita kenal dan bagaimana karakternya. Berikut uraiannya secara lengkap kami sajikan dibawah ini.

Siapa yang tidak mengenal warisan budaya yang satu ini. Telah terlahir sebagai budaya Indonesia kuno, terutama kebudayaan Jawa yang sangat melekat pada masyarakat Indonesia. Pada pagelaran kesenian wayang kulit terdapat banyak sekali cerita-cerita yang terkandung didalamnya, kepahlawan, percintaan, persaudaraan, perang antar negara bahkan perang antar saudara, pengkhianatan, sampai seluruh sendi kehidupan diceritakan atau disandang oleh performa budaya yang satu ini.

Pagelaran seni dengan menggunakan kulit ini telah hadir dalam kehidupan masyarakat khususnya Jawa sejak lima abad lamanya. Kisah-kisah yang dikenalkan dan biasa dilakonkan yaitu kisah Ramayana dan Mahabharata. Kedua kisah ini memiliki sejumlah tokoh wayang yang lengkap dengan beraneka karakter.

Pagelaran biasanya berlangsung selama semalam suntuk, cerita-cerita yang disajikan berisikan berbagai macam mengajarkan arti filosofi kehidupan terutama dalam masyarakat Jawa. Tujuannya sebagai refleksi dan pembelajaran dalam menjalani kehidupan.

Keberadaan kesenian khas asli Indonesia ini sudah memiliki cerita tersendiri bagi khasanah kebudayaan bangsa Indonesia.

Pagelaran wayang kulit dilakukan oleh seorang dalang yang bertugas sebagai pembawa cerita atau pendongeng. Dalang akan memainkan semua karakter dari tokoh yang ada sesuai lakom yang dibawa dan biasanya berlangsung sepanjang malam.

Ceritanya membawakan karakter manusia dengan purwarupa boneka yang terbuat dari kulit kerbau yang dihiasi dengan berbagai motif ukiran kulit yang bisa dibilang rumit.

Dalang harus memiliki kemampuan yang luar biasa, mulai dari mengubah karakter suara, berganti intonasi, menampilkan humor, dan bahkan menyanyi.

Performa tersebut dilakukan dalam rangka menghidupkan suasana, maka biasanya dalang dibantu oleh musisi yang memainkan gamelan, instrumen musik tradisional Jawa, serta diiringi penyanyi wanita yang disebut sinden yang menyanyikan lagu-lagu Jawa.

Sehingga karakter tokoh-tokoh yang dibawakan dapat hidup sesuai dengan jalan cerita, dan menjadikan suasana semakin menarik penghayatan dari para penonton.

Dalam Lakon Ramayana

Dalam lakon Ramayana tokoh-tokohnya memiliki karakter yang unik yang menarik. Lakon Ramayana ditulis oleh Walmiki dalam bentuk seloka, dan banyak diadaptasi bukan saja dalam sastra dan seni pewayangan, namun juga dalam bentuk drama dan tari.

Dalam legenda India diceritakan bahwa Walmiki sedang mencari pahlawan yang memiliki kebajikan dan kebijaksanaan paling besar di muka bumi. Maka, datanglah kepadanya Resi Narada (lewat mimpi) yang menceritakan tentang Rama.

Resi Nadara berkata: “Pahlawan yang kau cari itu bernama Rama, seorang keturunan Surya yang sekarang memerintah Ayodhya.”

Dalam mimpi itu, Narada mengisahkan secara lengkap perjalanan Rama yang penuh nestapa, sebelum akhirnya mencapai kegemilangan bertahta di Ayodhya. Walmiki terus terngiang kisah dalam mimpi itu dan memutuskan untuk menuliskannya dalam seloka Ramayana yang berarti Kisah Rama.

⇒Ringkasan Kisah Ramayana

Di Kerajaan Kosala yang beribukota Ayodhya, Prabu Dasarata memiliki tiga istri, yaitu: Kosalya yang melahirkan Rama, Kekayi yang melahirkan Bharata, dan Sumitra yang melahirkan putra kembar, Lakshmana dan Satrugna. Saat remaja, Rama berhasil memenangkan sayembara Kerajaan Mithila, dan mempersunting Dewi Sita, putri Prabu Janaka.

Rama diusir ke hutan karena Prabu Dasarata mewariskan tahta kepada Bharata atas permohonan Dewi Kekayi. Bharata meminta Rama menjadi raja tetapi Rama menolak melawan perintah ayahnya. Ia pergi ke hutan ditemani istrinya, Dewi Sita, dan adiknya, Lakshmana.

Rahwana, seorang raja raksasa, terpikat pada kecantikan Dewi Sita, lalu menculiknya selagi Rama pergi berburu. Dewi Sita dibawa ke Alengka. Rama kemudian memutuskan menyerang Alengka untuk menyelamatkan istrinya dan menumpas angkara murka. Dalam penyerangan itu, Rama didampingi Lakshmana dan mendapat bantuan dari Hanuman, seorang raja kera yang sakti mandraguna.

⇒Beberapa Tokoh Wayang Kulit Lakon Ramayana

Pada kisah Ramayana terkenal dengan berbagai tokohnya yang terkadang kita hanya mengenal beberapa saja yang biasa dilakonkan oleh dalang dalam sebuah pagelaran wayang. Berikut ini beberapa nama tokoh wayang kulit dalam cerita Ramayana:

  1. Anggodo, memiliki karakter yang sangat cerdas, ketangkasan dan kegesitan yang luar biasa dalam setiap pelakonannya.
  2. Anilo, berwujud kera memiliki kulit tubuh biru tua, memiliki karakter pemberani dan pantang menyerah. Selalu terdepan dalam setiap peperangan.
  3. Anjani, dia adalah ibu dari kera sakti Prabu Rama yang sangat disegani dan dihormati yaitu Hanoman. Wanita lemah lembut, tegas, pemberani, namun memiliki jiwa keibuan yang penuh kasih sayang.
  4. Dosoroto, keturunan bangsawan, merupakan ayahanda dari Sri rama. Memiliki karakter yang sangat pemurah, bijaksana, dan welas asih walau sebagai seorang raja.
  5. Hanoman, disembah sebagai dewa yang welas asih oleh masyarakat Hindu. Tokoh pewayangan yang selalu berwatak baik, terkenal akan kesetiaan dan keberaniannya.
  6. Indrajit, karakternya sangat bertentangan dengan Hanoman, selalu bersikap antagonis terhadap siapapun. Namun terkenal dengan kesaktiannya yang tiada tanding, merupakan salah satu musuh bebuyutan Sri Rama.
  7. Jatayu, berwujud sebagai seekor burung. Namun memiliki karakter yang protagonist dan suka menolong kepada yang benar, namun suatu ketika mati dalam peperangan melawan Rahwono.
  8. Jembawan, berwujud sekekor beruang. Salah satu teman terbaik Hanoman dalam setiap pelakonan.
  9. Kosalya, merupakan istri pertama dan ibu dari Sri Rama. Keturunan bangsawan yang memiliki trah atau silsilah keturunan raja yang sangat kuat.
  10. Kumbokarno, merupakan saudara seayah dan seibu dari musuh bebuyutan Sri Rama yaitu Rahwana. Walaupun memiliki fisik yang tidak sempurna, namun ia berkarakter bijaksana dan seorang ksatria.
  11. Laksmono, merupakan adik dari Sri Rama, namun tidak satu Ibu. Merupakan titisan dewa ular yang sangat disembah dan dikagumi oleh kaum Hindu, memiliki karakter yang setia kepada tuannya.
  12. Rama Wijaya, seorang raja yang sangat melegenda, merupakan keturunan dari orang-orang yang didewakan, berkarakter baik.
  13. Rahwono, merupakan musuh bebuyutan Sri Rama. Memiliki karakter yang tidak baik dan kecenderungan untuk selalu membenci kepada orang yang lebih darinya.
  14. Sinta, merupakan orang terkasih Sri Rama, yang mendampingin sampai akhir hayatnya. Terkenal akan kecantikan, lemah lembut, dan penyayang.
  15. Subali, merupakan saudara Sugriwa, seorang raja namun berkarakter jahat dan selalu bertentangan dengan Sri Rama.
  16. Sugriwa, merupakan raja dari para kera. Memilki karakter baik hati, setia, dan kstaria.
  17. Sumitro, merupakan ibu tiri dari Sri Rama.
  18. Trikoyo, merupakan keturunan dari Rahwono. Memiliki kesaktian yang luar biasa, dan terkenal tidak pernah takut pad siapapun.
  19. Wibisono, merupakan adik dari Rahwono, yang memiliki sifat protagonis.
  20. Dewi Windradi, dikenal sebagai seorang bidadari yang turun ke bumi dengan wujud manusia.

Tokoh Dalam Kisah Mahabharata

Pada kisah Mahabharata terkenal dengan berbagai tokoh wayang kulitnya, untuk tokoh pada kisah Mahabharata ini juga tidak kalah sangat banyak, ada beberapa diantaranya yang sangat popular di telinga masyarakat, yaitu:

  1. Abimanyu, merupakan anak dari Arjuna. Dia terkenal sebagai ksatria termuda pandowo yang gagah berani.
  2. Resi Abyoso, seorang alim pada agama Hindu. Memiliki kemampuan keagamaan yang sangat mumpuni.
  3. Ontoseno, merupakan putra dari Bimoseno. Memiliki karakter setia dan tangguh terhadap Pandowo.
  4. Arjuno, seorang Pandowo Limo yang terkenal akan paras tampannya, memiliki karakter baik, berbudi luhur, lemah lembut, serta penyayang akan sesamanya.
  5. Bolodewo, merupakan saudara dari Kresno, dipuja dan dieluhkan oleh masyarakat Hindu sebagai dewa.
  6. Banowati, keturunan dari raja Salya. Memiliki karakter yang baik, lemah lembut, dan wanita yang penuh dengan kasih saying. Sempat memadu kasih dengan Arjuno.
  7. Basudewo, merupakan saudara dari dewi Kunti. Beristrikan tiga orang, termasuk raja yang arif dan bijaksana, raja dari negeri mAnduro. Dia seorang bapak yang penyayang karena dari ketiga istrinya semuanya dikaruniai keturunan.
  8. Bimo, salah satu pahlawan besar dalam pewayangan Mahabharata. Salah satu dari pandawa yang gagah berani, memiliki sikap yang setia, tidak mudah berkhianat.
  9. Bismo, merupakan keturunan dari Raja Sentanu dan Ibunda Gangga. Pandowo dan Kurowo adalah keturunannya, namun kedua keturunan tersebut memiliki sifat yang berbeda.
  10. Cakil, dia adalah seorang raksasa yang memiliki wajah yang seram. Selalu mengalami pertentangan dengan Arjuno karena perbedaan sifat dan kepribadian yang mendalam.
  11. Dewoyani, keturunan dari seorang resi petinggi yaitu Mahaguru Sukro. Dia merupakan leluhur dari Pandowo dan Kurowo.
  12. Durgandini, dikenal dengan nama lain Satyowati. Dia adalah ibunda dari Resi Wyoso.
  13. Duryodono, merupakan tokoh dengan watak antagonis, dan salah satu tokoh utama dalam pewayangan kisah Mahabharata. Dia adalah menantu dari Prabu Salyo.
  14. Gatotkoco, merupakan putra dari Werkudoro, termasuk dalam keluarga Pandowo. Memiliki kesatian yang ampuh dan mandraguna, tekenal akan keberanian dan kegigihannya dalam menumpas sekutu Kurowo.
  15. Indra, merupakan seorang dewa yang mengatur cuaca dan raja dari semua dewa.
  16. Karno, salah satu raja yang merupakan sekutu Kurowo, dan memiliki watak yang licik, tokoh antagonis dalam pewayangan Mahabharata.
  17. Kunti, ibu kandung dari beberapa tokoh utama Mahabharata, seperti Kresno , Bolodewo, dan Subodro. Merupakan ibu ratu yang paling disegani dan dikagumi.
  18. Santanu, salah satu tokoh protagonist dalam pewayangan Mahabharata. Ayahanda dari Bismo, terkenal sebagai raja yang arif dan bijak.
  19. Srikandi. Siapa yang tidak mengenal wanita satu ini, di Indonesia semua orang sangat familiar terhadap sosok seorang Srikandi. Terkenal sebagai seorang ksatria wanita yang pemberani namun tidak pernah kehilangan jati dirinya sebagai wanita. Karakternya yang welas asih, lemah lembut, dan penuh kasih sayang, tegas membuatnya sangat terkenal.
  20. Yudistira, seorang raja yang baik dari negeri Kuru. Merupakan saudara tertua dari pandowo limo yang terkenal, memiliki karakter yang mengayomi terhadap saudara-saudaranya.

#Hakikat Pertunjukan Wayang


Ket Video: Pagelaran Wayang Kulit Ki Anom Suroto & Ki Bayu Aji Lakon Semar Maneges. (Chanel Nguri Budaya)

===∴===

Pertunjukan wayang sendiri sebetulnya memiliki peranan penting dalam mengubah paradigma masyarakat mengenai hakikat hidup yang sebenarnya. Dalam lakon wayang, baik Ramayana maupun Mahabrata, selalu ditekankan dua unsur yang memang selalu terjadi di muka bumi ini.

Unsur tersebut adalah unsur jahat dan unsur baik. Keduanya selalu ada dalam tiap adegan pewayangan. Oleh karena itu, selalu ada adegan peperangan di mana yang jahat menindas yang baik, atau yang baik melakukan penyebaran kebaikan kepada yang jahat.

Hal tersebut tentu saja serupa dengan kehidupan nyata yang terjadi di sekeliling kita. Bahkan dalam diri manusia sendiri pun terdapat kedua unsur yang jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan suatu kemalangan terhadap diri manusia.

Dengan kata lain, pertunjukan wayang juga memberikan pembelajaran mengenai sikap hidup yang baik bagi manusia untuk lebih mementingkan kehidupan yang nyata dibandingkan kehidupan yang semu.

Kehidupan yang nyata tersebut adalah kehidupan di akhir zaman yang tidak seorang pun tahu, sedangkan kehidupan semu adalah segala bentuk kesenangan duniawi yang dengan mudah dapat dicapai oleh umat manusia.

Kebudayaan Indonesia yang Layak Dilestarikan

Bila kita bertanya kepada nenek atau kakek kita tentang seni lakon ini, kemungkinan besar mereka akan paham. Namun, bisa dipastikan bahwa sebagian besar remaja akan bertanya sambil mengernyitkan dahi ketika mendengar kata “wayang kulit”.

Pendapat-pendapat seperti kurang gaul atau ketinggalan zaman lah yang mungkin akan mereka katakan. Maka, tidak salah bila kita simpulkan bahwa sebagian besar remaja pasti malu bila disuruh menonton kesenian ini. Padahal wayang kulit adalah salah satu pusaka negara yang memiliki banyak jasa terlebih terhadap pembangunan karakter manusia Indonesia.

Sebagai Media Penyambung Lidah

Peran wayang kulit dalam menyebarkan agama Islam bisa dibilang sangat sangat besar. Para Sunan menggunakannya sebagai penyambung lidah untuk berdakwah. Masyarakat Indonesia terutama Jawa yang saat itu sangat kental dengan budaya Hindhu-Budha bisa dengan mudah menerima keberadaan Islam sebagai agama baru lantaran cara berdakwah yang dilakukan oleh para Sunan dianggap menarik, yaitu melalui seni dan budaya.

Lewat cerita-cerita yang diusung oleh para Sunan, masyarakat Jawa belajar banyak hal. Bila tidak ada kesenian tersebut, mungkin masyarakat Indonesia terutama Jawa akan sulit menerima keberadaan agama baru yang di mata mereka saat itu dinilai kaku. Kejahatan yang saat itu dianggap wajar, perebutan kekuasaan, dan perang saudara juga mungkin akan menjadi-jadi.

Wayang kulit merupakan perpaduan budaya masyarakat lokal dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya. Bagi nenek moyang kita, mungkin tak ada kesenian yang paling baik di dunia ini.

Sebut saja kisah Barata Yudha atau dalam bahasa Jawa disebut dengan Baroto Yudho yang mengisahkan kelaliman yang diwakili oleh keluarga Kurawa melawan kebajikan yang diwakili oleh keluarga Pandhawa. Kurawa yang sarat dengan nafsu duniawi, kesombongan, serta keserakahan pada akhirnya bisa ditakhlukkan oleh Pandhawa yang jumlahnya tak sebanyak Kurawa, yang memiliki sifat sebaliknya. Kisah tersebut menjadi salah satu cerita yang selalu dihadirkan dalam pagelaran wayang.

Dalam keluarga Pandhawa kita mengenal ada Yudhistira yang bijak, Bima yang kuat, Arjuna yang tampan, dan Nakula Sadewa si kembar. Pun dalam keluarga Kurawa, kita mengenal Duryudana yang lalim.

Mewakili Sifat Manusia

Beberapa tokoh di atas mewakili sifat-sifat manusia pada umumnya. Tamak, kejam, serakah, ingin menang sendiri, bijak, kuat, dan tidak bisa menahan nafsu, semuanya adalah perwakilan dari sifat-sifat manusia. Pada akhirnya, yang putih yang akan menang meski harus melewati jalan yang tidak mudah. Sedangkan sisi hitam, sekalipun pada awalnya bisa berbuat sesuka hati namun pada akhirnya dia akan merasakan akibat dari semua perbuatan kejamnya.

Diakui atau tidak, masyarakat Jawa pada zaman dahulu lebih tertarik dengan cerita-cerita seperti di atas daripada mendengarkan dogma atau doktrin yang belum tentu mereka pahami. Cerita pewayangan yang mereka saksikan saat itu ibarat buku pelajaran yang mereka jadikan pedoman dalam menjalani kehidupan.

Mereka jadi tahu apa yang akan terjadi ketika hidup di dunia ini hanya untuk memuaskan nafsu yang tidak terbatas. Mereka juga akan berusaha menyontoh tokoh-tokoh wayang kulit yang dinilai baik, seperti Yudhistira, yang selama hidup sama sekali tak pernah berbohong. Mereka juga belajar hitam dan putih, belajar bagaimana mengendalikan nafsu, serta belajar membedakan perkara yang haq dan yang bathil.

Popularitasnya Semakin Menurun

Seiring dengan berkembangnya zaman, popularitas wayang kulit mengalami penurunan. Ibarat artis yang sudah mulai ditinggal penggemarnya karena sudah tua, begitu pun dengan kesenian ini. Kesenian yang sarat makna mulai tergantikan oleh kehadiran beragam hiburan yang datang dari luar.

Bila dulu hiburan ini adalah icon dan sebuah kebanggaan, kini hanya tinggal kenangan. Bila dulu tokoh-tokohnya seperti Yudhistira, Arjuna, Gatotkaca begitu mendunia, kini mereka harus rela “lengser” digantikan dengan tokoh-tokoh seperti Boy, Dilan, Harry Potter, Kapten Jack Sparrow, Jacob Black, Edward Cullen, dan yang sejenis.

Ya, kenyataannya kita terutama remaja, memang lebih mengenal tokoh-tokoh tersebut dibandingkan dengan tokoh-tokoh wayang kulit. Coba saja tanyakan siapa Dilan, sudah bisa dipastikan bahwa sebagian besar di antara kita bisa dengan mudah menebaknya. Namun, ketika ditanya siapa Yudhistira, mungkin hanya segelintir dari kita yang tahu.

Apakah kita salah bila mengagumi tokoh-tokoh di atas? Tentu saja tidak. Tokoh-tokoh luar atau artis lokal yang lebih banyak dikenal oleh masyarakat kita tersebut memiliki banyak sisi positif yang bisa kita teladani.

Hanya saja, yang menjadi persoalan adalah, bila dengan tokoh-tokoh spektakuler dari luar saja kita begitu dekat, maka sangat mengherankan bukan bila kita tidak tahu apa-apa dengan tokoh-tokoh yang juga tak kalah hebatnya yang berasal dari negeri kita sendiri? Seperti pada tokoh-tokoh dalam pagelaran wayang kulit.

Me-recycle

Menurunnya popularitas wayang kulit bisa jadi disebabkan karena kesenian ini dianggap sudah kuno dan tidak sesuai dengan idealisme anak muda zaman sekarang. Ibarat sebuah lagu, sudah seharusnya bila di-recycle menjadi sesuatu yang baru yang sesuai dengan zaman sekarang. Bukankah Sayyidina Ali pernah berkata, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya“. Maka, tidak salah bukan bila kesenian memang sudah seharusnya di”remaja”kan.

Beberapa cara yang bisa kita lakukan adalah sebagai berikut.

  • Menulis ulang kisah-kisahnya dengan gaya bahasa dan setting yang menarik. Berkaca dari bangsa Jepang yang begitu mencintai budayanya melalui novel dan film yang berkisah tentang budaya mereka, mengapa kita tidak mengadaptasinya? Atau bila kita menonton film Percy Jackson yang sebenarnya adalah kisah Pseudon yang memiliki anak dengan setting di zaman modern. Kisah yang sebenarnya boleh dibilang sangat kuno tersebut ternyata mampu menarik minat remaja untuk menontonnya.
  • Cara lain misalnya dengan mengadakan lomba bertema wayang kulit. Dengan menggandeng sekolah, universitas, dan instansi pendidikan sejenis, pemerintah bisa mengadakan lomba karya tulis dengan peserta seluruh lapisan masyarakat Sebagai penarik, tentu hadiahnya harus menggiurkan. Awalnya, mungkin masyarakat hanya akan berorientasi pada hadiah yang sangat menggiurkan tersebut. Akan tetapi pada prosesnya, sebagian peserta akan menemukan keindahan dari obyek yang sedang diteliti. Dari yang awalnya hanya profit oriented menjadi cinta.

Sungguh sangat disayangkan bila wayang kulit yang memiliki begitu banyak jasa terhadap pembentukan karakter bangsa Indonesia, kini dilupakan begitu saja. Pada masa lampau kesenian ini menjadi salah satu kebanggaan dan harta yang tak ternilai bagi bangsa kita. Namun, sekarang kesenian tersebut seolah tergilas oleh globalisasi. Padahal, banyak hal yang bisa dipelajari generasi muda terutama dalam hal pembentukan karakter dan jati diri.

Oleh sebab itu, diperlukan sebuah formula baru yang mampu mengangkat derajatnya, sehingga mampu dianggap sejajar dengan kesenian atau hiburan masa kini. Wayang kulit adalah identitas dan bukan hanya sekadar barang antik yang disimpan namun tidak diperhatikan. Kalau bukan kita generasi muda Indonesia yang mengangkat kembali derajatnya, lalu siapa lagi?

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Komentar akan langsung tayang tanpa moderasi kecuali komentar mengandung spam dan rasis. Untuk itu isilah komentar dengan bijak tanpa spam dan rasis apalagi ujaran kebencian dan caci maki. Agar komentar anda langsung aktif.

Informasi Menarik Lainnya

Author: INDRA

Saya adalah Blogger pemula yang senang berbagi. Alumni salah satu Pondok Pesantren yang ada di kota Bengkulu. Pernah kuliah di STIE Depok jurusan Akutansi Perbankan. Juga pernah merasakan pahit manis kuliah di IAIN Bengkulu jurusan Bahasa Inggris.


#TAG Terkait: , ,